Selasa, 11 Desember 2012

Berikut ini perbandingan bahan dan tenaga untuk membuat beton dengan mutu K sekian



Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 7,4 MPa (K 100), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,87
Bahan
  • Portland cement 247,000 kg
  • PB 869 kg
  • KR (maksimum 30 mm) 999 kg
  • Air 215 Liter
Tenaga kerja
  • Pekerja 1,650 OH
  • Tukang batu 0,275 OH
  • Kepala tukang 0,028 OH
  • Mandor 0,083 OH
Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 9,8 MPa (K 125), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,78
Bahan
  • Portland Cement 276,000 kg
  • PB 828 kg
  • kerikil (maksimum 30 mm) kg 1012 KR
  • Air 215 Liter
Tenaga kerja
  • Pekerja 1,650 OH
  • Tukang batu 0,275 OH
  • Kepala tukang 0,028 OH
  • Mandor 0,083 OH
Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 12,2 MPa (K 150), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,72
Bahan
  • Portland cement 299,000 kg
  • PB 799 kg
  • Kerikil (maksimum 30 mm) 1017 kg
  • Air 215 Liter
Tenaga kerja
  • Pekerja 1,650 OH
  • Tukang batu 0,275 OH
  • Kepala tukang 0,028 OH
  • Mandor 0,083 OH
Membuat 1 m3 lantai kerja beton mutu f’c = 7,4 MPa (K 100), slump (3-6) cm, w/c
= 0,87
Bahan
  • Portlland cement 230,000 kg
  • PB 893 kg
  • Bahan KR (maksimum 30 mm) 1027 kg
  • Air 200 Liter
Tenaga kerja
  • Pekerja 1,200 OH
  • Tukang batu OH 0,200 OH
  • Kepala tukang 0,020 OH
  • Mandor 0,060 OH
Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 14,5 MPa (K 175), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,66
Kebutuhan Satuan Indeks
Bahan
  • Portland cement 326,000 kg
  • PB 760 kg
  • KR (maksimum 30 mm) 1029 kg
  • Air 215 Liter
Tenaga kerja
  • Pekerja OH 1,650 OH
  • Tukang batu OH 0,275 OH
  • Kepala tukang OH 0,028 OH
  • Mandor OH 0,083 OH
Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 16,9 MPa (K 200), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,61
Kebutuhan Satuan Indeks
Bahan
  • Portland cement 352,000 kg
  • PB 731 kg
  • KR (maksimum 30 mm) 1031 kg
  • Air 215 Liter
Tenaga kerja
  • Pekerja 1,650 OH
  • Tukang batu 0,275 OH
  • Kepala tukang 0,028 OH
  • Mandor 0,083 OH
Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 19,3 MPa (K 225), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,58
Kebutuhan Satuan Indeks
Bahan
  • Portland cement 371,000 kg
  • PB 698 kg
  • KR (maksimum 30 mm) 1047 kg
  • Air 215 Liter
Tenaga kerja
  • Pekerja 1,650 OH
  • Tukang batu 0,275 OH
  • Kepala tukang 0,028 OH
  • Mandor o,028 OH
Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 21,7 MPa (K 250), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,56
Bahan
  • Portland cement 384,000 kg
  • PB 692 kg
  • KR (maksimum 30 mm) 1039 kg
  • Air 215 Liter
Tenaga kerja
  • Pekerja 1,650 OH
  • Tukang batu 0,275 OH
  • Kepala tukang 0,028 OH
  • Mandor 0,083 OH
Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 24,0 MPa (K 275), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,53
Bahan
  • Portland cement 406,000 kg
  • PB 684 kg
  • Bahan KR (maksimum 30 mm) 1026 kg
  • Air 215 Liter
Tenaga kerja
  • Pekerja 1,650 OH
  • Tukang batu 0,275 OH
  • Kepala tukang 0,028 OH
  • Mandor 0,083 OH
Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 26,4 MPa (K 300), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,52
Bahan
  • Portland cement 413,000 kg
  • PB 681 kg
  • Bahan KR (maksimum 30 mm) 1021 kg
  • Air 215 Liter
Tenaga kerja
  • Pekerja OH 1,650 OH
  • Tukang batu OH 0,275 OH
  • Kepala tukang OH 0,028 OH
  • Mandor OH 0,083 OH
Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 28,8 MPa (K 325), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,49
Bahan
  • Portland cement 439,000 kg
  • PB 670 kg
  • Bahan KR (maksimum 30 mm) 1006 kg
  • water 215 Liter
Tenaga kerja
  • Pekerja 2,100 OH
  • Tukang batu 0,350 OH
  • Kepala tukang 0,035 OH
  • Mandor 0,105 OH
Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 31,2 MPa (K 350), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,48
Bahan
  • Portland cement 448,000 kg
  • PB 667 kg
  • KR (maksimum 30 mm) 1000 kg
  • Air 215 Liter
Tenaga kerja
  • Pekerja 2,100 OH
  • Tukang batu 0,350 OH
  • Kepala tukang 0,035 OH
  • Mandor 0,105 OH
Bobot isi pasir = 1.400 kg/m3, Bobot isi kerikil = 1.350 kg/m3, Bukling factor pasir = 20 % ”
Perbandingan bahan tersebut dapat menghasilkan mutu beton mendekati  rencana K sekian menyesuaikan kondisi bahan tenaga dimana beton dibuat.
Sumber: SNI

Senin, 10 Desember 2012

Tips agar Siaran TV menjadi Jernih



Seringkali kita mengutak-atik agar TV kita dapat menangkap siaran dengan jernih. Berbagai peralatan kita siapkan dan kita pasang, namun siaran TV yang kita bidik masih saja dipenuhi semut-semut penganggu. Sebenarnya, bagaimana cara menangkap siaran TV itu? Berikut tips agar siaran TV menjadi jernih versi Blogger Gundul.

Pada dasarnya, agar siaran TV menjadi bening atau jernih, kita tidak harus memakai antenna parabola yang harganya cukup mahal. Hanya dengan beberapa langkah, siaran TV (nasional) yang kita bidik akan nampak jernih dan stabil. Berikut beberapa faktor yang harus kita perhatikan untuk membuat TV kita bening:

Antena
Antena harus kita pilih yang berjenis outdoor, meskipun pada prakteknya akan kita tempatkan di dalam ruangan (diatas plafon).  Tidak harus yang besar, ambil saja yang ukuran sedang namun memiliki kualitas handal.

Kabel
Kabel dapat kita beli yang meteran atau paketan. Namun disarankan untuk memperoleh hasil yang optimal, kita ambil kabel antenna yang dijual meteran, yang umumnya lebih baik kualitasnya daripada kabel antenna yang paketan.

Konektor
Konektor kabel ke TV biasanya telah disediakan jika kita membeli kabel antenna yang paketan. Namun demikian, memilih konektor antenna yang berkualitas akan memberikan hasil kejernihan gambar yang lebih baik.

Panjang Kabel
Panjang kabel tidaklah berbanding lurus dengan hasil tangkapan sinyal. Untuk itu, sesuaikan dengan jarak antara TV sobat dengan antenna yang dipakai karena adanya gulungan kabel akibat terlalu panjang justru akan mengurangi kualitas tangkapan gambar.

Posisi Antena
Penempatan antenna juga mempengaruhi kualitas tangkapan sinyal. Posisikan menghadap ke pemancar TV yang sobat bidik, dan usahakan tidak ada bangunan permanen yang menutupi arah antenna tersebut.

Booster
Booster kadang diperlukan untuk lokasi yang jauh dari antenna pemancar. Namun demikian, penggunaan booster kadang justru akan menimbulkan gambar berbayang jika kekuatan sinyal di daerah sobat sekalian telah mencukupi.

Demikian faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas sinyal siaran TV. Jika sobat menginginkan kualitas gambar siaran TV yang baik, perhatikan sejumlah faktor penentu tersebut dan dapatkan gambar yang bagus, bening, atau jernih sehingga acara yang sobat tonton menjadi mengasyikkan tanpa gangguan semut-semut layar. Selamat mencoba.
<p>Your browser does not support iframes.</p>

 

Belajar Presentasi yang Baik dan Menarik

Setelah sebelumnya saya mengulas cara sederhana untuk Belajar berbicara di depan umum, yang fungsinya adalah untuk memberikan keberanian pada kita untuk tampil di depan. Maka saat ini lebih mendalam lagi tentang cara Belajar Presentasi yang baik dan menarik. Mungkin sudah banyak tips-tips cara presentasi yang bisa dengan mudah kita cari lewat mbah Google, tapi kali ini saya akan ulas dengan bahasa sederhana berdasar pengalaman saya sendiri.

Seperti yang telah saya paparkan bahwasanya berbicara (presentasi) di depan umum bukanlah sebuah bakat, namun sebuah kemampuan bicara yang akan terus berkembang seiring dengan banyaknya latihan dan praktek. Namun apakah orang yang sudah tampil di depan dan banyak melakukan latihan dan praktek berbicara di depan, akan mampu meyuguhkan sebuah presentasi yang baik dan menarik? Jawabannya... belum tentu.

Sebelumnya mohon maaf bila ada yang tersungging... Mungkin pada saat kuliah/sekolah, kita pernah mendengarkan seorang guru atau dosen yang menyampaikan mata pelajaran, justru membuat siswanya mengantuk atau merasa booring. Padahal seorang guru atau dosen, pekerjaan setiap harinya adalah mengajar. Atau kita pernah mengikuti sebuah seminar yang ternyata kita bukannya memperhatikan pembicaranya, tetapi lebih banyak memandang layar karena begitu banyaknya slide yang ditampilkan. Bahkan lebih parah lagi kita tidak memperhatikan pembicara dan slide yang ditampilkan, tapi malah sibuk sms-an atau main handphone dan berharap acara segera berakhir.

Sehingga... setelah kita mulai berani untuk tampil berbicara di depan lebih dari satu orang dengan banyak melakukan latihan dan praktek, maka selanjutnya kita perlu mengembangkan diri agar presentasi kita bisa lebih baik dan menarik.

Dalam sebuah presentasi (apapun itu bentuknya), selalu memiliki 4 unsur:
  1. Pembicara : adalah orang menyampaikan ide/gagasan dalam sebuah presentasi.
  2. Materi : adalah ide/gagasan yang akan disampaikan, sehingga bisa tersalurkan kepada orang lain.
  3. Audien : adalah target dari pembicara untuk menyampaikan ide/gagasan-nya.
  4. Perlengkapan : adalah sarana penunjang yang dipakai oleh pembicara yang akan menyampaikan ide/gagasan agar bisa tersampaikan kepada audien. Sarana penunjang bisa berupa ruangan, penerangan, lcd proyektor, sound sistem dan sebagainya.

Peserta seminar yang saya adakan bersama Tim.

Pembicara atau Presenter adalah orang yang paling berperan selama berjalannya presentasi, karena dialah yang menyajikan informasi, ide atau gagasan. Untuk itu jika kita ditunjuk sebagai pembicara (dalam acara apa saja) ada 4 hal yang harus dipersiapkan agar selama presentasi bisa berjalan dengan lancar:

1. Menguasai Materi.

Seorang pembicara yang tidak menguasai materi, bisa terlihat dari caranya menyampaikan presentasi. Dia akan lebih banyak melihat catatannya, entah itu catatan di kertas, laptop atau yang terpampang di layar proyektor. Jika ini yang kita lakukan, maka sama halnya kita mendikte audien. Pernahkah kita menjumpai pada saat sekolah atau kuliah, seorang guru atau dosen selalu mengajar dengan membacakan buku yang dibawanya sementara kita mencatat? Bagaimana rasanya? Sangat menjemukan tentunya. Untuk itu gunakanlah catatan sebagai kunci agar step-step presentasi yang kita bawakan bisa sistematis, bukan hanya dibacakan. Oleh karena itu seorang pembicara mutlak hukumnya untuk menguasai materi.

2. Mengenali Audien.

Audien sering dianggap sebagai obyek pasif yang hanya menerima informasi dari pembicara. Karena itu banyak pembicara yang menyampaikan presentasi dengan asal-asalan dan sangat cepat, yang penting materi sudah tersampaikan dan tidak memakan banyak waktu. Cara ini biasanya dilakukan oleh pembicara pemula atau yang baru belajar berbicara di depan, karena mungkin saking nervouse-nya sehingga dia menyampaikan informasi seperti iklan koran "padat, singkat, terpercaya"... hehehe.

Memang untuk membuat audien memahami materi hanya dalam sekali pertemuan sangatlah sulit, namun respon yang ditunjukkan mereka selama berjalannya presentasi itulah yang menjadi tolak ukur sukses/tidaknya seorang pembicara dalam menyampaikan informasi. Untuk itu jika kita sebagai pembicara harus mengenali siapa audien yang menjadi target penyampaian informasi. Setelah itu baru kita bisa menentukan materi, susunan kata serta cara penyampaiannya. Pembicara yang bagus adalah orang yang mampu menyampaikan informasi dengan bahasa yang dimengerti oleh audiennya, seperti kata pepatah "Jangan bicara tentang warna kepada orang buta".

3. Mengetahui Peralatan Pendukung.

Jika dalam presentasi menggunakan sarana pendukung seperti sound sistem, lcd proyektor atau peralatan elektronik lainnya seyogyanya pembicara harus mengetahui cara penggunaannya. Hal ini untuk mencegah kesalahan yang terjadi akibat ketidak tahuan menggunakan peralatan, seperti mikrofon mendenging, slide yang seharusnya maju ke halaman depan justru malah balik ke halaman sebelumnya, dan sebagainya. Kesalahan seperti ini bisa berakibat konsentrasi baik pembicara maupun audien menjadi pecah, si pembicara menjadi panik dan respon audien akan menurun. Karena itu sangat disarankan bila kita menjadi pembicara, untuk mencoba semua peralatan yang digunakan sebelum acara presentasi berlangsung.

4. Menyiapkan Rencana Alternatif.

Terkadang selama presentasi, ada saja hal-hal yang terjadi yang bisa membuat jalannya presentasi terganggu. Misalnya mikrofon (wireless) tiba-tiba mati karena kehabisan baterai, laptop yang tiba-tiba hang, file presentasi yang rusak dan tidak bisa dibuka dan lain sebagainya. Jika kita tidak mempersiapkan rencana alternatif, maka bisa jadi presentasi akan terhenti. Dan tentunya ini tidak hanya membuyarkan konsentrasi tapi juga menurunkan penilaian audien terhadap pembicara dan panitia pelaksana.

Setelah kita mempersiapkan segala sesuatunya, maka saat ini waktunya untuk menyampaikan presentasi kepada audien. Agar presentasi yang kita bawakan bisa berjalan dengan baik dan menarik serta mendapatkan respon yang positif dari audien, maka kita perlu memperhatikan hal-hal berikut ini:

  • Penampilan.
    Tidak peduli presentasi itu dibawakan oleh ketua RT kepada warganya, atasan kepada anak buahnya, guru kepada muridnya, seorang marketing kepada calon pelanggannya dan lain sebagainya... yang namanya penampilan harus dijaga.
    • Raut muka kita harus terlihat berseri, jangan terlihat kusam seperti orang dikejar hutang.
    • Baju yang kita kenakan harus rapi dan bersih, jangan acak-acakan seperti orang habis kalah judi.
    • Jika habis makan, periksalah mulut dan gigi siapa tahu ada yang masih nyangkut.
    • Pokoknya penampilan dari ujung rambut sampai ujung kaki harus benar-benar dijaga, karena penampilan adalah kesan pertama untuk menilai seseorang. Seperti moto sebuah iklan, "Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda..."

  • Suara.
    Dalam menyampaikan presentasi, suara yang kita keluarkan harus jelas. Tidak terlalu keras seperti orang sedang mengamuk atau terlalu pelan seperti orang lagi menggerutu. Pengucapan huruf vokal pun harus jelas antara A, I, U, E dan O, agar informasi yang kita sampaikan bisa ditangkap dengan jelas oleh audien. Intonasi suara juga perlu diperhatikan, jangan menyampaikan presentasi dengan suara yang datar. Seperti mendengarkan lagu, apakah enak didengar jika hanya menggunakan satu nada/not saja? Pasti akan banyak penonton yang segera pergi meninggalkan kita.

  • Ice Breaking.
    Sebelum masuk ke materi presentasi, sebaiknya pembicara melakukan ice breaking untuk mencairkan suasana. Ice breaking bisa dengan cara kita memperkenalkan diri, menanyakan kabar audien, cerita ringan atau mengungkapkan alasan mengapa kita memilih materi. Jika suasana antara pembicara dengan audien sudah cair, maka akan lebih mudah kita dalam menyampaikan informasi.

  • Body Language (Bahasa Tubuh).
    Acara presentasi bisa disebut sebagai sarana "show" bagi pembicara yang disaksikan audien. Maka jangan pernah kita menyampaikan presentasi seperti patung atau seperti murid yang dihukum gurunya, hanya berdiri diam di satu tempat.
    • Kuasailah ruangan dengan bergerak kekiri, kekanan, atau bila perlu maju ke audien. Dengan kita bergerak maka pandangan audien juga akan bergerak tidak cuman melihat satu titik, itu bisa membuat audien tidak mengantuk.
    • Gerakkan tangan, mimik muka, bila perlu anggota tubuh untuk berekspresi, jangan suka menyimpan tangan kita ke dalam saku karena itu bisa membuat audien jenuh.
    • Bila kita menyampaikan presentasi sambil duduk berjejer di depan, jangan sampai kondisi itu membuat kita kaku. Tetap gunakan tangan dan mimi muka, bila perlu kita ambil mikrofon dari stand-nya agar gerak kita bisa lebih bebas.

  • Eye Catching (Tatapan Mata).
    Menyampaikan presentasi sama halnya dengan kita berkomunikasi dengan audien. Arahkan pandangan kita ke depan menatap pandangan semua audien secara bergantian (jangan cuma menatap audien yang cakep saja). Dengan bertatap mata akan semakin membuat hubungan komunikasi lebih dekat, selain itu kita bisa mengetahui respon dari audien yang memperhatikan dengan yang tidak. Bagaimana jika kita belum berani menatap mata audien?... Kita bisa menatap dahi atau ujung rambut audien, yang penting jangan sering melihat ke bawah karena kita tidak sedang mencari uang yang jatuh.

  • Pemilihan kata.
    Gunakanlah bahasa yang mudah dimengerti oleh audien. Jangan karena supaya kelihatan jenius, kita menggunakan istilah-istilah yang justru membuat audien tidak mudeng (mengerti). Pakailah bahasa yang sopan, seperti menyebut audien dengan "bapak", "ibu", "adik" (jika audiennya pelajar) atau "anda", serta menyebut kita sendiri dengan "saya" atau langsung menyebut "nama kita". Jangan sok kayak artis yang suka menyebut dengan kamu, aku, loe, gue... karena itu mengesankan kita sombong dan meremehkan. Jika menggunakan bahasa daerah, maka pergunakan bahasa paling halus di daerah itu.

  • Sisipkan Joke (Humor).
    Suasana yang riang dan gembira akan terkesan lebih santai, dan itu membuat materi yang disampaikan bisa dengan mudah untuk diserap. Asal jangan bercanda terus dari awal sampai akhir, nanti malah dikira kita pelawak yang alih profesi jadi pembicara hehehehe...

  • Tambahkan Diskusi (Tanya jawab).
    Bila waktu memungkinkan, berilah waktu untuk sesion diskusi atau tanya jawab. Hal ini akan lebih menunjukan kepedulian terhadap audien, serta membuat presentasi berjalan dengan komunikasi dua arah. Apabila waktu yang diberikan tidak mencukupi, maka sisihkan waktu setelah presentasi untuk audien bertanya lebih dalam. Semakin kita care maka audien pun semakin merasa nyaman, sehingga ketika kita memberikan presentasi lagi di lain waktu, mereka pasti akan lebih respek dengan kita.

Uraian diatas adalah bagaimana supaya kita bisa menyampaikan presentasi yang baik dan juga menarik. Jadi bagi yang sudah punya keberanian untuk berbicara di depan umum, mulailah melakukan pengembangan diri agar kita bisa menjadi penyampai informasi yang baik dan disukai. Kita tidak tahu di masa depan kita akan jadi apa, sehingga tidak ada salahnya untuk mempersiapkan diri sejak dini.

Sumber : http://arie5758.blogspot.com/2011/12/belajar-presentasi-yang-baik-dan.html#ixzz2EiNB45JA
Sertakan sumber artikel sebagai Backlink

Menciptakan Rumah Yang Sehat


Rumah Sehat
Rumah dan kesehatan adalah dua hal yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat modern saat ini. Karena itulah pembangunan rumah senantiasa dikaitkan dengan persyaratan kesehatan. Maksudnya agar penghuni rumah terhindar dari berbagai penyakit terutama penyakit yang menular. Kesehatan bukan lagi masalah dokter saja, desainer/arsitek yang merencanakan rumah tinggal juga memiliki peran untuk meningkatkan kualitas kesehatan penghuni rumah melalui desain rumah yang dibuatnya.
Untuk menentukan rancangan rumah dalam proses pembangunannya, tentu kedudukan arsitek tak bisa dilepaskan. Peran arsitek yang menawarkan rancangan rumah yang baik sesuai dengan kemampuan pemilik rumah, seharusnya disejajarkan dengan peran calon penghuni yang mempunyai kesadaran akan kesehatan. Keduanya sama dan sejajar, karena rumah yang memenuhi persyaratan sehat, berarti pula menjaga kebersihan lingkungan.
Untuk memperoleh hunian (rumah) yang layak, lingkungan rumah harus memenuhi persyaratan kesehatan. Kalau tidak, ini akan ada hubungan interaktif yang berakibat buruk terhadap kesehatan. Rumah sehat sangat banyak aspeknya, antara lain ada aspek sosiologi, fisika, kimia dan biologisnya.
Pada zaman sekarang, pembangunan rumah didasarkan pada beberapa pertimbangan. Faktor keuangan menjadi bahan pertimbangan bagi ekonomi yang pas-pasan. Sementara konsumen berekonomi kuat membangun rumah dengan memperhitungkan keindahan dan kemewahan saja.
Adapun kriteria sehat berdasarkan kebutuhan sehat diantaranya ukuran rumah sehat berkaitan dengan ukuran lantai rumah. Ideal untuk satu orang memerlukan luas lantai 4,5 m2 dan untuk anak-anak umur 1-10 tahun sekitar 1,5 m2. Selama ini rumah kecil dipadati banyak isi keluarga, sehingga tampak berdesakan. Sehingga, aspek pertumbuhan keluarga terabaikan. Semakin banyak penghuni pada sebuah rumah terutama yang sempit, semakin banyak koloni kuman. Dan ini, jelas berakibat penghuni rumah akan mengalami penyakit saluran pernapasan.
Aspek yang juga penting diperhatikan adalah ventilasi. Artinya, lantai rumah harus dirangkai sistim ventilasi yang baik, agar mendapat kualitas udara bersih. Hasil penelitian, ventilasi yang mendekati baik berdasarkan kesehatan adalah 10-20 persen dari luas lantai rumah.
Interior Rumah Sehat
Udara salah satu unsur penting untuk menunjang kesehatan. Kita tak bisa menunda bernapas, tapi kalau kita haus, kita masih bisa menunda minum untuk beberapa lama. Dan celakanya di dalam rumah kita sering menemukan sumber-sumber pencemaran, terutama asap rokok lalu dari pembakaran kompor, cat, asbes. Semuanya itu memberikan kontribusi kualitas udara di dalam rumah.
Terakhir lingkungan fisik, radiasi dari televisi, radio, alat-alat elektronik lainnya serta kebisingan. Pekerja di perusahan radio dan televisi, menurut suatu penelitian, ada keluhan gangguan menstruasi. Konon ini merupakan dampak buruk dari radiasi radio. Karenanya perlu penelitian lebih lanjut, apakah inipun dapat diderita oleh penghuni rumah?. Kebutuhan atas rumah tinggal memang dominan, dan kesadaran masyarakat untuk tinggal di rumah sehat semakin tinggi. Hal itu tentu tidak lepas dengan semakin menjamurnya pembangunan perumahan-perumahan di kawasan pinggiran kota oleh pihak developer (pengembang).
Sekalipun keindahan budaya dan aspek kemewahan mempunyai arti tersendiri, tapi bila ditinjau dari sudut kesehatan, rumah yang sehat tidaklah tergantung dari terpenuhi atau tidaknya kedua hal tersebut diatas. Berdasarkan laporan American Public Health Association (1959), satu rumah dipandang sesuai dengan prinsip kesehatan apabila memenuhi 4 persyaratan pokok.
- Pertama, mampu memenuhi kebutuhan fisiologi dasar penghuni.
- Kedua, mampu memenuhi kebutuhan psikologi dasar penghuni.
- Ketiga, mampu melindungi penghuni dari kemungkinan terjangkitnya penyakit menular.
- Keempat, mampu melindungi penghuni terhadap kemungkinan timbulnya bahaya kecelakaan.
Eksterior Rumah Sehat
Dengan kata lain, rumah yang benar-benar sehat adalah rumah yang dapat menjamin terpeliharanya kesehatan para penghuninya. Rumah yang mewah, kalau penghuninya selalu jatuh sakit, maka ini bukanlah rumah yang sehat. Sebaliknya, meskipun rumahnya relatif sederhana tetapi bila kesehatan penghuninya dapat terjamin, maka rumah tersebut dapat dikatakan sebagai rumah yang sehat.
Pada akhirnya, masalah rumah sehat ini memang tidak bisa lepas dari penghuninya itu sendiri. Dengan menjaga kebersihan di dalam rumah berarti kesehatan lingkunganpun ikut terjaga. Bila rumah dan lingkungan sehat, barulah terbentuk apa yang disebut rumah sehat.
Tags: ‘Rumah Sehat’ ‘Menciptakan Rumah Yang Sehat’ ‘Cara Mneciptakan Rumah Yang Sehat’ ‘Membangun Rumah Yang Sehat’ ‘Desain Rumah Yang Sehat’ ‘Rumah Mewah Dan Sehat’ ‘Desain Rumah Mewah Dan Sehat’ ‘Rumah Sederhana Dan Sehat’ ‘Menjaga Kesehatan Penghuni Rumah’ ‘Pembangunan Perumahan Yang Sehat’ ‘Sirkulasi Udara Agar Rumah Sehat’ ‘Sirkulasi Udara Dalam Rumah’ ‘Interior Rumah Yang Sehat’ ‘Eksterior Rumah Yang Sehat’
Architectaria - Arsitek dan Perencana